Tiga Aspek Yang Saling Membutuhkan Untuk Saling Menghidupkan

  • 0

Tiga Aspek Yang Saling Membutuhkan Untuk Saling Menghidupkan

Facebooktwitter

Kata “senior” identik dengan kata “senioritas” yang lebih memiliki makna negatif. Apalagi bila kata itu muncul dalam suatu ekskul yang bersifat semi-militer, seperti PASKIBRA. Tetapi apakah seharusnya seperti itu? PASKIBRA SMA 99 sendiri tidak memungkiri bahwa sistem kasta seperti senior-junior tetap digunakan dalam ekskul ini. Tetapi, PASKIBRA SMA 99 sudah jelas dan tegas tidak menerima paham yang menyimpang seperti senior tidak bisa/pernah salah dan sesuka hati menghukum juniornya.

Bagi PASKIBRA SMA 99 senior merupakan kakak yang harus dihormati bukan untuk ditakuti. Begitu juga dengan junior yang merupakan adik yang harus dikasihi dan dilindungi bukan untuk dihukum sesuka hati. Sikap asah, asih , dan asuh menjadi pondasi utama dalam berelasi antara senior dan junior di PASKIBRA SMA 99. Junior membutuhkan senior dan begitu juga senior ada untuk junior. Hubungan timbal balik yang dibaluti oleh kasih bukan oleh penindasan.

Ketika sikap asah, asih, dan asuh diantara senior dan junior diutamakan maka pembentukan karakter dalam ekskul PASKIBRA SMA 99 bukan mengarah kepada kesombongan dan kesemena-menaan. Tetapi, sikap rendah hati, saling menghargai, dan mau meneladani dan memberi teladan yang positif. Hal itu terpampang tidak hanya ketika kegiatan latihan tetapi juga diluar waktu latihan. Tidak jarang, senior dan para alumni mau bekerja sama turun tangan dan terlibat membantu mempersiapkan adik-adiknya tampil mengikuti perlombaan. 10422592_10203753882792485_3791885263202358158_nDari foto disamping (tanpa sepengetahuan kedua kakak tersebut) terlihat jelas anggapan bahwa senior yang berkuasa, lebih hebat/tinggi dari juniornya terbantahkan melalui sikap rendah hati. Kedua kakak tersebut tanpa sungkan mau turun tangan membantu junior memperbaiki sepatu/kaus kakinya. Apakah tindakan yang dilakukan itu melecehkan martabat dan harga diri kedua kakak tersebut? Tidak. Secara tidak langsung,  tindakan yang dilakukan kedua kakak itu merupakan salah satu tindakan yang mengajarkan sikap mengasihi, peduli, rendah hati kepada junior tersebut.

Bukankah junior selalu mengarahkan pandangannya kepada senior dan alumni untuk belajar? Senior dan alumni tidak akan bisa lari untuk menjadi objek yang diteladani oleh juniornya. Oleh karena itu, PASKIBRA SMA 99 hingga saat ini selalu berupaya untuk membentuk senior (yang nantinya jadi alumni) yang berlandaskan pada sikap asah, asih, dan asuh serta selalu mengingatkan kewajibannya sebagai teladan.

2Bagaimanapun juga, senior dan alumni selalu dibutuhkan oleh junior. Senior dan alumnilah yang setia menanti di garis akhir. Menanti adik-adiknya dengan rasa bangga, menanti tanpa harus menyesal, menanti untuk menguatkan ketika semangat dan asa mulai pudar, menanti dengan membawa harapan.

 

Merangkul dengan semangat, menyatu dalam kebahagiaan, 3berteriak dalam riuhnya perlombaan. Semua mata tertuju pada satu titik, dimana kakak menanti adiknya di garis akhir dan suara lantang dari kakak dan adik ini menjadi bukti PASKIBRA SMA 99 adalah kita (junior-senior-alumni).

Tidak dapat dimungkiri jiwa PASKIBRA SMA 99 ada pada tiga aspek tersebut. Tiga aspek yang menyatu padu, saling membutuhkan untuk saling menghidupkan. 1
Pada titik itulah kita menjadi berarti. Pada titik itulah kemenangan bukan segalanya dan kekalahan tak lagi menyakitkan, karena ada kakak yang selalu dinanti oleh adik, karena ada senior yang selalu memberi kekuatan bagi junior. Kitalah junior itu, kitalah senior itu, dan kitalah alumni itu. Dan siapalagi PASKIBRA SMA 99 kalau bukan kita?

 

10420115_10203753891672707_6532137209857187347_n

Ada masa ketika kita harus pergi, tetapi jangan pernah lupa ada yang menanti kita untuk kembali.

Kembali untuk membagi cinta kasih, kembali untuk menginspirasi, kembali untuk tersenyum bersama lagi.

“Karena keluarga tak harus yang sedarah”

 

 


Paskibra SMAN 99 - Do The Best, Be The Best, No Regret!

%d blogger menyukai ini: